Sektor perjalanan sedang mengalami perubahan signifikan, mulai dari tekanan harga dan strategi data hingga ekspansi barang mewah di pasar-pasar utama. Perkembangan terkini menyoroti bagaimana perusahaan beradaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen dan kondisi ekonomi.
Kenaikan Harga Louvre Mencerminkan Meningkatnya Biaya Operasional
Museum Louvre telah menerapkan kenaikan harga sebesar 45% untuk sebagian besar pengunjung. Langkah ini dilakukan ketika museum di seluruh dunia bergulat dengan peningkatan biaya operasional, tantangan staf, dan kebutuhan akan investasi berkelanjutan dalam pelestarian dan infrastruktur. Meskipun Louvre masih menjadi daya tarik global, harga yang lebih tinggi dapat membatasi aksesibilitas bagi wisatawan yang memiliki anggaran terbatas.
Loyalitas Berbasis Data: Pendekatan Wunderkind
Di era privasi digital yang semakin ketat, pemasar perjalanan semakin bergantung pada resolusi identitas untuk mempersonalisasi pengalaman dan mendorong pemesanan langsung. Ronen Kadosh dari Wunderkind menekankan bahwa strategi data yang lebih cerdas sangat penting untuk membangun loyalitas pelanggan yang bertahan lama. Tren ini didorong oleh kebutuhan untuk mengurangi gangguan iklan dan menjangkau pelanggan secara langsung, terutama karena pelacakan pihak ketiga menjadi kurang dapat diandalkan.
Kecemasan sebagai Produk: Perusahaan Perjalanan India Memanfaatkan Penghindaran Risiko
Agen perjalanan online (OTA) India memanfaatkan kecemasan wisatawan dengan menawarkan produk yang mengurangi risiko gangguan. Hal ini mencakup penjelasan yang jelas mengenai potensi masalah dan pilihan untuk menghilangkan ketidakpastian melalui asuransi atau kebijakan pemesanan yang fleksibel. Pergeseran ini menunjukkan meningkatnya tuntutan akan ketenangan pikiran, terutama di tengah kondisi perjalanan yang bergejolak. Masa depan tren ini bergantung pada kemampuan model AI untuk memprediksi dan menangani guncangan gangguan yang jarang terjadi secara efektif.
Ekspansi Kemewahan: Pergerakan Leela dan IHG di India
Leela Hotels sedang mempercepat ekspansinya, menambahkan properti mewah ketiga ke dalam proyeknya sejak IPO. Strategi ini, yang berfokus pada pembangunan klaster destinasi wisata di sekitar propertinya, menandakan ambisi yang lebih luas untuk mendefinisikan kembali perjalanan mewah. Pada saat yang sama, IHG juga memperkenalkan Koleksi Vignette ke India, yang menunjukkan bahwa pasar tersebut kini sudah cukup matang untuk mendukung hotel-hotel kelas menengah dan kelas atas. Ekspansi ini mencerminkan peningkatan daya beli dan kepercayaan terhadap sektor perjalanan mewah India.
Kesimpulan: Industri perjalanan beradaptasi dengan realitas ekonomi, perubahan privasi data, dan preferensi konsumen yang terus berkembang. Perusahaan yang memprioritaskan loyalitas, manajemen risiko, dan pengalaman mewah siap untuk tumbuh dalam lanskap kompetitif.
























